puisi dan renungan

Adakah langit yang  selalu menurunkan hujan, 
Adakah sungai yang selalu mengalirkan air,
Adakah pohon yang selalu berbuah,
Adakah  roda yang selalu berputar,
Adakah angin yang selalu bertiup,
Adakah bumi yang selalu bergravitasi,
Adakah ladang-ladang selalu panen,
Adakah sawah yang selalu berpadi,
Adakah bunga yang selalu bersemi,
Adakah api yang selalu menyala,
Adakah tiang-tiang yang selalu tegak,
Ternyata semua tak ada,
Lalu kujumpai nafas yang pertama dan terakhir,
Namun usahaku tak dapati bayang-bayang yang menerima keabadian cintaku,
Bahwa cinta itu abadi,
Itu hanyalah kata yang tertera di batu nisan,
Cinta yang mendatangi semua ajal,
Demi setiap jiwa yang pernah menghirup angin dunia,
Mengapa aku begini,
Tak kuasa aku menjumpainya?,
Apa aku hanyalah daun hijau, atau hanya air yang belum membeku,
Untuk diukir dengan indah oleh sejuta seniman di atas sana.
Padahal aku sudah siap untuk ditoreh oleh sjuta tinta.
Atau aku tak sekokoh dinding yang terus menghalangi angin,
Yang berusaha menerobos rumahku,
Walau tak kujumpai setitik salju,
Yang menyejukkkan panasnya luapan tanya,
Dari lubang bibir suci ini.
Aku akan mencari dan terus mencari sampai kau tiada lagi.